Jangan Cuma Melarang Anak

Saat anak terjatuh atau terluka dalam insiden kecil ketika bermain atau beraktivitas, sebagian besar orangtua pasti akan berkata, “Jangan lakukan lagi, ya!” Ternyata, menurut studi dari University of Iowa, orangtua sebaiknya tidak hanya berhenti pada larangan saja.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

“Orangtua perlu berbicara pada anak tentang kejadian tersebut, mengapa hal itu bisa berbahaya apabila dilakukan, dan mengapa dia sebaiknya tidak mengulangi hal itu lagi,” kata Jodie Plumert, salah satu peneliti studi ini, yang merupakan profesor di Department of Psychological and Brain Sciences, University of Iowa. Jika anak masih kecil, jelaskan secara lebih sederhana dengan bahasa yang dapat dipahaminya.

Fast Food Pengaruhi Pertumbuhan Tulang

Studi di jurnal Osteoporosis International memperlihatkan, banyaknya restoran cepat saji di lingkungan tempat tinggal seseorang berkaitan dengan rendahnya kepadatan mineral tulang pada anak. Hal sebaliknya ditemukan pada anak-anak yang tinggal di perumahan yang dikelilingi oleh banyak toko bahan makanan sehat.

Dari riset ini, para peneliti berkesimpulan, lingkungan tempat tinggal yang penuh dengan makanan sehat dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan tulang anak. Saat ini, di sebagian daerah di Inggris telah diberlakukan aturan yang tidak mengizinkan berdirinya gerai makanan cepat saji dalam radius 400 meter dari sekolah. Di negeri kita sendiri mungkin belum ada aturan seperti ini, namun setidaknya mama bisa memulainya dengan tidak membiasakan si kecil terlalu banyak makan fast food.

Si Sulung Lebih Berisiko Berkacamata?

Menurut riset yang dimuat di jurnal JAMA Opthalmology, gangguan rabun jauh pada usia anak dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, waktu bermain di luar ruangan yang kurang, serta terlalu banyak membaca dan menulis. Selain itu, kurangnya dukungan orangtua terhadap anak pertama juga ikut berpengaruh.

Misalnya, kurangnya penyediaan lingkungan dengan penerangan yang baik bagi anak atau jadwal aktivitas yang kurang memadai, seperti membiarkan anak berlama-lama main game. Akibatnya, si sulung lebih berisiko memakai kacamata, bahkan pada usia lebih muda. Hal ini biasanya akan berubah saat memiliki anak kedua dan selanjutnya, karena orangtua sudah belajar dari pengalaman dengan anak pertama.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *