Konfik Di Suriah Semakin Kompleks

BAGAI air bah, pengungsi asal Suriah melanda negara sekitar seperti Turki dan negara-negara Eropa. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat ada sekitar 4,8 juta pengungsi asal Suriah, 2,7 juta di antaranya ditampung Turki. Pada Maret 2015, saat berkunjung ke Hatay, Kilis, Gaziantep, dan Sanliurfa— sejumlah kota di perbatasan Turki-Suriah—saya melihat pengungsi yang jumlahnya berlipat, yang pada Oktober 2012 menurut UNHCR ”hanya” 700 ribu orang. Semakin banyak tenda putih milik pemerintah Turki dan UNHCR ditegakkan. Sebagian pengungsi tinggal di permukiman kumuh, dan banyak bocah Suriah menjadi pemulung. Mereka yang tidak bisa menyeberang akhirnya bertahan di tenda pengungsi di wilayah pinggiran seperti Bab alSalama di Kota Azaz, Suriah utara.

Mereka terusir di negaranya sendiri. Empat tahun silam, tatkala suhu mencapai 10 derajat Celsius pada malam hari, sebagian pengungsi tercekik dingin. Musababnya, pembagian selimut tak merata. Seorang pengungsi bercerita, kantor bantuan pengungsi di Azaz malah menjual selimut yang seharusnya dibagikan gratis. ”Bahkan kami kadang harus membayar untuk obat-obatan,” kata pengungsi asal Aleppo itu. Seorang petugas media di Bab al-Salama membenarkan ada staf pengelola bantuan yang mendulang untung dari bantuan untuk para pengungsi. ”Bahkan ada yang bisa membeli mobil baru,” kata petugas asal Azaz itu.

Wijbe Abma, sekarang 25 tahun, mahasiswa asal Belanda yang saya temui di Kota Kilis, sempat kesulitan menyalurkan selimut untuk para pengungsi. ”Saya memang hanya membawa 100 selimut, tapi petugas di pos bantuan malah menertawakan saya,” ujarnya. Wijbe akhirnya membagikan langsung selimutnya kepada para pengungsi. Abdo Ibrahim, penerjemah sekaligus sopir saya selama di Suriah, juga mengakui ada pemberontak yang mendulang keuntungan dari perang. Salah satunya melalui pengiriman senjata dari Turki ke Suriah. Tapi Abdo tak mau menjelaskan lebih detail.

Belakangan, tersiar kabar bahwa Brigade Badai Utara, khatiba yang menguasai Azaz dan sempat saya ikuti kiprahnya, juga ikut mengendalikan penyelundupan barang-barang dari perbatasan. Memang, para anggota grup ini secara terbuka mengaku menerima upah bulanan US$ 150. ”Ada pendukung gerakan dari Suriah dan Arab yang ikut membantu kami,” kata seorang komandan Badai Utara. Tudingan lain, Brigade Badai Utara ”menjual” jurnalis Amerika, Steven Sotlo?, kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Pada September 2014, ISIS mengeluarkan video pemenggalan Sotlo?.

Kendati begitu, saat itu saya masih bisa melihat langsung sebagian pemberontak punya kepedulian terhadap penduduk Aleppo. Kerap kali mereka mengajak penduduk yang lewat menyantap bersama hidangan yang mereka makan. Bahkan beberapa di antaranya memberi uang dan makanan kepada yang membutuhkan. Hari terakhir di Aleppo, saya melihat Abdul Rahman, kakek 62 tahun, menerima khobz—roti khas Suriah—dari seorang tentara pemberontak di kawasan Salaheddin. Abdul Rahman berjalan kaki cukup jauh bersama dua cucunya yang masih di bawah lima tahun. Mendekap khobz, senyum tersungging di wajahnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *