Bayu Krisnamurthi, Ketua Umum Perhepi, mengatakan, konsumen Indonesia masih meng anggap konsumsi beras atau nasi merupakan hal yang penting. Na mun, terdapat indikasi penurunan pandangan pentingnya konsumsi beras atau nasi terutama pada konsumen ber pendapatan tinggi. Studi beras Perhepi 2016 yang dila kukan di 13 kota di Indonesia menunjuk kan, 93% konsumen berpendapatan rendah (di bawah Rp3 juta/ bulan/ keluarga) menganggap makan nasi merupa kan hal yang penting disam ping banyak nya pilihan makanan, se perti mi dan roti.

Sedangkan bagi konsumen berpengha sil an tinggi, di atas Rp10 juta/bulan/keluarga, sebanyak 83% yang juga berpendapat sama. Masih berdasarkan studi itu, 86% respon den membeli beras dalam ke mas an dan sebanyak 61% konsumen ber pen dapatan tinggi memilih kemasan berme rek. Konsumen berpendapatan rendah hanya 38% yang memilih beras kemasan dengan merek.

Memilih Beras Bermerek Dalam hal pembelian beras untuk dikon sumsi, pembeli memperhatikan be berapa faktor, yaitu bentuk, warna, ra sa, dan jenis/merek. Hasil studi juga mengungkapkan, konsumen berpendapatan tinggi lebih selektif dalam memilih beras daripada konsumen berpen dapatan rendah. Chris Oey, Marketing Director PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, menga takan saat ini sudah terjadi shifting (peralihan) pemilihan beras ke arah be ras bermerek.

“Memang saat ini ada in dikasi konsumen memilih beras yang bermerek. Hal ini wajar saja apalagi kalau sudah masuk supermarket, kalau jual enggak ada mereknya kan bi ngung,” ungkapnya pada acara Semi nar Nasional “Perilaku Konsu men Beras: Implikasi terhadap Kebijakan Beras Nasional” di Jakarta (31/5). Penelitian lebih lanjut menunjukkan, adanya usaha konsumen untuk membeli beras dengan merek atau jenis tertentu.

Masih berdasarkan penggolong an pendapatan, konsumen berpendapatan tinggi lebih banyak mencari beras bermerek atau jenis tertentu dibandingkan konsumen berpendapatan menengah dan rendah. Di Padang, beras yang banyak dicari adalah IR42, Sokan, AnakDaro, dan Beras Solok. Sedangkan di Solo, konsumen banyak yang mencari IR64, Ciherang, C4, Pandanwangi, dan Menthik. “Memang ada kerancuan dalam menentukan merek. Beras yang dicari kon sumen lebih merujuk ke varietas seperti Ciherang, Cisadane, dan Pandan wangi. Beras-beras lokal cenderung disukai di daerahnya,” papar Bayu. Berkaitan dengan faktor pembelian beras yang diperhatikan konsumen, Perhepi menyimpulkan, konsumen beras telah menganggap kualitas dan karakteristik beras merupakan sesuatu yang penting.

Karena itu, konsumen bersedia membayar lebih tinggi beras yang berkualitas dan memiliki karakteristik tertentu. Berhubungan dengan harga, Perhepi mendapatkan kesimpulan, dengan meningkatnya pen dapatan, konsumen beras lebih tahan menghadapi kenaikan harga beras. Faktor Kualitas Terkait penelitian Perhepi itu, Denni Puspa Purbasari, Ekonom UGM dan Deputi III Kantor Staf Presiden, berpandangan, dengan diperhatikannya kriteria kualitas beras, maka proses peng olahan gabah menjadi beras, pengemasan, dan pemberian merek menjadi penting. Bisnis penggilingan premium, ritel, dan logistik, imbuh dia, juga merupakan bagian penting dari terciptanya beras berkualitas tinggi.

Menurut Denni, temuan Perhepi ini merupakan hal yang relevan bagi pembangunan sektor pertanian Indonesia. “Apa yang dilakukan Perhepi hari ini adalah sebuah kontribusi intelektual yang sangat berharga bagi Indonesia. Perhepi menyimpulkan beras adalah komoditas,” komentarnya. Temuan ini, lanjut dia, menjadikan perlu adanya transformasi sektor pertanian yang berorientasi pada permintaan. Semakin kaya penduduk Indo nesia, semakin sedikit beras yang dikonsumsi, namun kualitas beras yang diminta semakin tinggi. Dikaitkan dengan tren ini, Indonesia perlu berinves tasi dalam hal penelitian dan pengem bangan benih padi untuk mendapatkan beras yang berkualitas baik. Selain itu, pemerintah, tambah Denni, juga perlu berinvestasi teknologi pengolahan pascapanen yang baik. Kebijakan yang dibuat nantinya harus membuka peluang munculnya pengusaha kreatif dan inovatif dalam hal berproduksi, proses, dan pemasaran. Pola Konsumsi Menurut Harianto, Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi, Kabinet Indonesia Bersatu II, konsumsi beras di Jawa relatif lebih rendah diban dingkan pulau lainnya.

Berdasarkan Susenas Kuartal I-2013, ratarata konsumsi beras per rumahtangga di Jawa sebesar 6,22 kg/minggu. Angka ini lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata konsumsi beras di Sumatera yang mencapai 7,56 kg/minggu. Bahkan, di Sulawesi dan Bali-Nusa Tenggara mencapai angka 8,11 kg/minggu dan 8,77 kg/minggu.

“Konsumsi beras di Jawa lebih rendah dari daerah lain. Sementara produksi beras banyak di Jawa. Berarti sumber energi orang Jawa sudah berge ser, tidak hanya pemenuhan dari konsumsi beras,” paparnya. Harianto melanjutkan, pangsa pengeluaran untuk beras cenderung sema kin menurun sejalan dengan meningkatnya pendapatan rumah tangga. “Semakin tinggi pendapatan rumah tang ga, semakin berkurang konsumsi kalori yang berasal dari beras dan umbi-umbian,” lanjutnya.

Pendapatan rumah tangga yang meningkat diikuti pe ningkatan kalori yang berasal dari daging, telur, sayuran, buah-buahan, mi instan, dan lain-lain. Kelompok ini mengandalkan sumber kalori dari bahan pangan yang lebih variatif dan bermutu. Implikasi kebijakan yang berkaitan de ngan pola konsumsi, lanjut Harianto, mengharuskan adanya stabilitas harga beras terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.

Harga beras yang naik tidak saja menyebabkan permintaan beras turun, tetapi juga juga dapat mengurangi permintaan pangan non-beras. Dengan demikian, harga beras yang tinggi dapat menghambat diversifikasi pangan konsumen berpen dapatan rendah.

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *