Kerja, lo, ya, bukan buka laptop tapi browsing shopping online, atau kelamaan berinteraksi dengan media sosial. Ini pen ting karena kalau bisa bekerja efektif di kantor, kita enggak perlu bawa kerjaan kantor ke rumah dan enggak kepikiran pekerjaan yang belum selesai.” Mama Ayu (38) yang baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran dan menjadi full time mom, me ngatakan, menyeimbangkan waktu antara diri sendiri dan kebutuhan anakanak itu butuh perjuangan.

Baca juga : toefl ibt jakarta

“Berat memang, apalagi saya masih punya satu anak balita di rumah, tapi ini sudah menjadi komitmen dan kesepakatan antara saya dan suami. Jadi sebisa mungkin saya harus mampu menyeimbangkan kebutuhan anak-anak, suami, dan urusan rumah tangga deh. Kalau buat saya, intinya sebenarnya pekerjaan rumah tangga itu dikerjain bareng-bareng, berbagi dengan semua anggota keluarga. Misal, si ayah mencuci baju, anak yang sudah besar, ‘izzan (12) dan Fali (9), bantuin cuci piring, sementara yang paling kecil, Rania (3) membereskan mainan setelah main.

Di saat yang sama, saya memasak di dapur. Nah, dengan begini pekerjaan rumah enggak terlalu melelahkan dan bikin bosen. Oh, ya, saya juga selalu membuat jadwal tak tertulis mengena hal-hal yang harus dikerjakan sejak dari bangun tidur sampai mau tidur malam. Jadwal ini berguna banget.” Bagaimana dengan Mama sendiri? Apakah sudah menemukan cara untuk bisa menikmati me time yang manfaatnya tidak main-main?

Mulailah dari rasa percaya diri untuk menghapus rasa bersalah tersebut kepada siapa pun. Hanya dengan begitu Mama bisa mendapatkan manfaatnya. Buktikan saja sendiri! Ibu rumah tangga ternyata hanya punya waktu 17 menit untuk dirinya sendiri dalam sehari! BERANI TAMPIL “Carleen adalah tipe anak yang tidak suka dibawelin. Suatu hari saya mengikutkannya lomba fashion show untuk pertama kalinya. Saat itu dengan bawelnya, aku pesan ke anakku, ‘Lihat, ya, Nak, nanti jalannya seperti itu, yaa….’ Dengan singkat, anakku menjawab, ‘Iyaa, Mami…!!’ Aku yang khawatir dan resah saat ia akan tampil, eh, ternyata berubah menjadi bangga, karena anakku mampu dan berani berjalan di depan banyak orang.”

Sumber : https://pascal-edu.com/

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *