Perusahaan yang belakangan mengakuisisi OLVEH itu memiliki surat perjanjian antara Direktur OLVEH di Batavia, J.P. Peeterboom Voller, dan Richard L.A. Schoemaker. Dokumen bertajuk Ocereenkomst tertanggal 12 Maret 1921 itu menyebut Richard mewakili C.P. Schoemaker en Associate. ”Richard bertindak sebagai wakil dari perusahaan Charles,” kata Roosmalen. Hingga saat ini Roosmalen masih tidak yakin Schoemaker mana yang merancang OLVEH. Dalam cetak biru gedung OLVEH berangka tahun 1920 tidak ada tanda tangan Charles atau Richard untuk memastikannya.

”Cetak biru itu hanya bertulis nama firma Schoemaker,” katanya. Berbeda dengan Roosmalen, Boy justru yakin Charles Prosper Wolff Schoemaker yang merancang gedung itu. ”Bagi saya, atap kubah itu mirip dengan kubah Gereja Bethel di Bandung yang menyerupai candi,” kata Boy menyebutkan karya Wolff Schoemaker. Dari dua bersaudara itu, yang lebih serius memperhatikan candi adalah Wolff. Dia juga punya teori lain: Wolff mungkin tidak terlalu bangga dengan karyanya. Boy menduga ada perubahan arsitektural yang terjadi selama atau setelah pembangunan gedung. Hipotesisnya berasal dari skylight (pencahayaan alami dari atap) yang ada di atas tangga lantai tiga. Cahaya itu seharusnya menerangi bukan hanya lantai tiga, tapi dua lantai di bawahnya.

Artikel Lainnya : kota-bunga.net

”Tangga melingkar ini seharusnya mendapat cahaya dari langit. Buat apa membangun skylight hanya untuk satu lantai?” kata Boy. Dia juga menekankan bahwa penggunaan skylight dengan kaca patri belum populer pada masa itu. Anehnya, dia melanjutkan, cahaya itu hanya menerangi lantai tiga. Dua lantai di bawahnya ditutup untuk membangun brankas-brankas di antara tangga. Yang jelas, perancang gedung ini pastilah memiliki kepekaan tinggi. Gedung ini memiliki dua façade. Tampak muka menghadap ke plaza pusat kota dan tampak belakang, yang tak kalah cantik, menghadap ke Rumah Abu Setia Dharma Marga. ”Arsitektur gedung ini tidak memunggungi aktivitas spiritual kaum Tionghoa,” kata Boy. Sebuah balkon di façade belakang bahkan dibangun untuk melihat aktivitas kaum Tionghoa di sana. Lebarnya mencapai dua meter. Menurut Candrian Attahiyat, balkon ini terlebar di antara balkon-balkon gedung di Batavia saat itu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *