Guru Besar Ilmu Perilaku Kon su men, Departemen Ilmu Ke luar ga dan Konsumen, Fakul tas Ekologi Manusia (FEM) IPB, Ujang Sumarwan, mengungkapkan ada nya pergeseran pandangan mengenai beras yang sebelumnya hanya se ba gai komoditas. “Beras itu sudah menjadi branded consumer product. Merek itu kan merefleksikan kualitas dan konsistensi pada kualitas itu sen diri,” tuturnya saat menjadi pembicara pada seminar nasional “Perilaku Kon sumen Beras” di Jakarta (31/5).

Ujang melanjutkan, di Indonesia ting katan mutu beras ditetapkan da lam instruksi presiden dan Standar Nasional Indonesia (SNI) seperti terlihat pada Tabel Kualitas Beras. Sela ras dengan tabel tersebut, secara sing kat Harianto, Akademisi Agribisnis FEM IPB me nyimpulkan, semakin se dikit beras yang patah dan berkapur, ma ka harga jualnya akan semakin tinggi. Tahapan Produksi Suwardy Widjaja, Direktur PT Trimi tra Sukses Bersama di Jakarta, menga takan, ada sejumlah hal yang harus di perhatikan mengenai penanaman padi agar hasilnya memenuhi standar nasio nal atau bahkan internasional.

“Hal-hal yang harus diperhatikan se19belum tanam adalah kualitas benih, kondisi tanah, pengairan atau irigasi, pupuk, dan pestisida. Semua hal yang kita maksud ini sudah harus menggunakan mekanisasi karena tanpa me kanisasi tidak akan didapat hasil yang maksimal,” ujar importir dan distributor alsintan di Jakarta itu. Hal pertama, lanjut dia, adalah benih. Benih yang diambil dari indukan padi terlebih dahulu dibersihkan menggunakan blower supaya kotoran tidak terbawa. Kemudian dikeringkan dengan dryer, bukan menggunakan matahari.

“Dryer itu bisa mengatur suhu karena suhu pengeringan benih harus di ba wah 40oC supaya tunas tidak mati,” jelasnya. Setelah didapat benih yang bersih, kemudian dipisahkan ukuran butiran yang kecil dan yang besar mengguna kan grader. Proses pembersihan dua kali ini dengan tujuan untuk meminimalkan kotoran yang dapat menghambat pertumbuhan benih. Benih terpilih selanjutnya dilapisi seperti vitamin yang bertujuan untuk imunisasi. Sementara itu dari sisi pe rawatan tanaman, Dudy Kris tyanto, Marketing Manager PT Bina Guna Ki mia, menganjurkan aplikasi paket produk untuk mening katkan kualitas padi.

“Yang pertama dengan plant energi zer yang berbahan aktif se nya wa aromatik N tur unan Ni trobenzen 20%, kemudian pestisida yang berbahan aktif heksakonazol, dan hormon GA3,” papar Dudy.

Plant energizer tersebut diaplikasikan seminggu se be lum pencabutan bibit dari persemaian untuk mengurangi efek stres pada akar. De ngan dosis 2 ml/L, produk ini akan mendorong pertumbuhan hormon auksin yang berperan pada pertumbuhan akar. Waktu aplikasi nya saat umur 15 hari setelah tanam (HST) dan 25 HST. Pengaplikasian produk ini dapat menghasilkan gabah yang utuh, ber kilap, dan menjadi beras kepala. Teknologi Pascapanen Berdasarkan penelitian Perhepi, faktor yang diperhatikan konsumen saat membeli beras adalah bentuk beras, warna, rasa, dan merek.

Untuk mengelompokkan beras mencakup bentuk dan warnanya tentu sudah harus memanfaatkan alsintan. Suwardy menjelaskan, kualitas beras juga ditentukan oleh teknologi panen dan pascapanen padi. “Peralatan tepat guna panen dan pascapanen dimulai dari alat pemotong padi (reaper), mini combine harvester, combine harvester besar, sampai mesin proses beras” ujarnya.

Combine harvester berfungsi untuk memanen, merontokkan gabah dari malai, dan mengepak dengan sistem tampung menggunakan karung. Pria yang akrab disapa Ady ini menambahkan, kunci utama setelah panen adalah pengeringan gabah secara merata sehingga meminimalkan kerusak an atau beras patah ketika proses peng gilingan menjadi beras. Pemisahan ukuran beras dapat dila ku kan dengan grader.

”Sebenarnya tidak beda jauh dengan yang grader un tuk benih, hanya bedanya kalau untuk benih ada infrared-nya sedangkan untuk padi konsumsi tidak menggunakan infrared,” jelas Suwardy. WN Soebardjo, Marketing Manager Grain Processing Division PT Rutan di Surabaya, membeberkan, saat ini sudah ada mesin yang berfungsi sebagai color sorter atau pemisah warna beras.

Teknologi yang digunakan sudah canggih karena mesin pemisah warna beras yang sebelumnya menggunakan kamera hitam putih (mono krom) kini dengan kamera berwarna. “Mesin alsintan pemisah warna beras yang kami jual sudah ada yang mengaplikasikan full color camera sejak tahun 2015,” ulasnya berpromosi. Teknologi pemisah warna beras ini, lanjut Bardjo, mampu memilah warna beras yang semu ku ning.

Warna beras semu kuning meng indikasikan perbedaan kandungan air. “Apabila ditemukan satu-dua biji beras semu kuning, nanti bisa mengkontaminasi be ras lainnya sehingga sekumpul an beras semu kuning ini akan ber tambah. Makanya sejak awal pe ngeringan harus merata,” sarannya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *